Jakarta –
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan alasan di balik pemeriksaan kesehatan yang ketat bagi calon jemaah haji 2026. Penjelasan ini disampaikannya saat meninjau proses pemeriksaan Istithaah kesehatan calon jemaah di Puskesmas Nusa Indah, Kota Bengkulu.
Di Bengkulu, pada hari ini, proses pemeriksaan Istitha’ah jemaah yang berhak melunasi telah mencapai lebih dari 90 persen. Sementara itu, proses pelunasan bagi mereka yang telah dinyatakan Istithaah juga hampir menyentuh angka 50 persen, dari total kuota 1.276 jemaah. Ini menunjukkan tingkat keterlibatan dan keseriusan dalam persiapan ibadah haji tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dahnil, ketatnya pemeriksaan kesehatan bukan hanya bersifat administratif, melainkan merupakan upaya kehati-hatian dari petugas kesehatan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa hanya jemaah yang benar-benar sehat dan layak yang dapat berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Kebijakan ini sejalan dengan ketentuan pemerintah Arab Saudi yang semakin ketat, memastikan jemaah haji memenuhi aspek Istithaah.
“Saudi bahkan telah memberikan ultimatum bahwa akan ada pemeriksaan acak di bandara nanti. Jika ditemukan adanya jemaah yang tidak memenuhi syarat Istithaah, mereka dapat langsung dipulangkan,” ujar Dahnil dalam keterangannya pada Jumat (12/12/2025). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemenuhan syarat kesehatan bagi calon jemaah haji.
Wamenhaj menegaskan bahwa percepatan proses pemeriksaan menjadi kunci untuk memastikan seluruh tahapan pelunasan berjalan lancar dan menjaga standar kesehatan jemaah sesuai regulasi yang berlaku di Indonesia dan ketentuan Pemerintah Arab Saudi. Proses itu harus dilakukan dengan efisien agar tidak ada penundaan yang merugikan calon jemaah.
Dia juga menyampaikan bahwa masih ada beberapa daerah yang mengalami perlambatan dalam pemeriksaan kesehatan, yang pada gilirannya menghambat proses pelunasan biaya haji. Oleh karenanya, Dahnil menekankan pentingnya akselerasi pemeriksaan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Kami mendorong semua pihak untuk mempercepat proses, karena perlambatan pelunasan juga dipengaruhi oleh perlambatan di Siskohatkes. Kami ingin memastikan bahwa seluruh sarana pemeriksaan di Indonesia beroperasi secara optimal,” kata Wamenhaj.
Untuk mendukung percepatan tersebut, dukungan dari Dinas Kesehatan di seluruh daerah sangat diperlukan. Oleh karena itu, Dahnil mengajak Dinkes untuk bersinergi dalam hal ini agar calon jemaah haji dapat segera menyelesaikan proses administrasi dan kesehatan mereka.
“Kami meminta sinergi antara Dinas Kesehatan dan sarana pemeriksaan agar proses ini dapat segera teratasi, sehingga pelunasan jemaah dapat dilakukan tanpa rintangan,” jar Dahnil menekankan pentingnya kerjasama dalam logistik pemeriksaan kesehatan.
Di momen ini, Dahnil juga mengingatkan perlunya integritas dalam setiap tahapan proses ini. Praktik meloloskan jemaah yang sebetulnya tidak layak harus dihentikan, karena bisa menyebabkan masalah serius di Tanah Suci. Kesehatan jemaah adalah prioritas utama, dan setiap individu yang ingin menunaikan ibadah haji harus berada dalam kondisi baik.
“Kami berharap tidak ada lagi upaya menunda pengujian jemaah yang tidak Istithaah. Jangan ada jemaah yang sebenarnya tidak siap secara kesehatan dipaksakan untuk berangkat. Hal ini akan menyulitkan mereka, dan itu bukanlah tindakan yang etis,” jelas Dahnil.
Selain itu, Wamenhaj juga menegaskan pentingnya kesiapan petugas haji yang akan mendampingi jemaah selama di Arab Saudi. Petugas tersebut harus siap untuk bertugas setiap hari, termasuk saat-saat darurat, agar jemaah dapat merasa aman dan nyaman selama menjalankan ibadah.
“Petugas harus siap untuk bertugas selama 25 jam setiap hari dalam mendampingi dan melayani jemaah,” tambahnya. Dengan kesiapan yang optimal, diharapkan perjalanan ibadah haji dapat berlangsung tanpa hambatan, dan pengalaman jemaah akan menjadi lebih bermakna.
Proses administrasi, pemeriksaan, dan pelunasan biaya haji merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan ibadah ini. Oleh karena itu, penting bagi setiap calon jemaah untuk tetap proaktif dalam mempersiapkan segala sesuatunya, baik dari segi kesehatan maupun administrasi. Mengedukasi diri tentang persyaratan dan prosedur yang berlaku juga sangat penting untuk menghindari masalah di kemudian hari.
Setiap calon jemaah juga seharusnya menjalin komunikasi yang baik dengan pihak penyelenggara, untuk mendapatkan informasi terkini mengenai proses yang sedang berjalan. Dengan cara ini, mereka dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dan memastikan bahwa ibadah haji yang dirindukan bisa terlaksana dengan lancar dan nyaman.
Lebih jauh, pemerintah pun terus berupaya meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas yang dibutuhkan oleh jemaah haji. Melalui sinergi dan kolaborasi antara berbagai instansi, dapat dipastikan bahwa setiap calon jemaah mendapat pengalaman terbaik saat menjalankan ibadah haji, termasuk dari sisi kesehatan.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Jika Anda siap untuk memulai perjalanan ibadah haji yang tak terlupakan, kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut!



