Makkah – Menelusuri Jejak Sejarah di Darul Arqam
Makkah adalah sebuah tempat yang kaya akan sejarah dan spiritualitas dalam tradisi Islam. Salah satu lokasi yang sangat signifikan adalah Darul Arqam, yang dikenal sebagai markas pertama dakwah Rasulullah SAW dan madrasah pertama bagi kaum Muslimin di Makkah. Di sinilah selama tiga tahun, Rasulullah SAW dengan tekun membina para sahabat secara diam-diam, menyiapkan mereka untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah berbagai tantangan.
Meskipun bangunan asli Darul Arqam tidak lagi ada, keberadaannya tetap diingat dengan penamaan salah satu akses menuju area Sai di Masjidil Haram, yaitu sebagai Pintu Al-Arqam atau Eskalator Al-Arqam. Ini adalah pengingat titik sejarah yang berharga di mana segala sesuatu dimulai. Lokasinya yang dipercaya berada di lereng Bukit Safa, di mana rumah Al-Arqam dulunya berdiri, menghubungkan umat Islam masa kini dengan masa lalu yang penuh makna.
Ahmad Musyaddad, penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, menjelaskan bahwa penamaan ini menjadi pengingat akan fase penting dalam penyebaran Islam. “Di sinilah para sahabat mengaji. Di sinilah Rasulullah SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Ini bukan hanya sepekan atau sebulan, tetapi selama tiga tahun,” ungkap Musyaddad saat memandu tur jejak sirah di sekitar Masjidil Haram.
Selama periode tiga tahun ini, Rasulullah SAW mengajarkan Al-Qur’an dan membina para sahabat di Darul Arqam, hingga jumlah kaum Muslimin mencapai 40 orang. Salah satu momen kunci dalam sejarah Islam adalah ketika Umar bin Khattab RA, yang menjadi orang ke-40 yang memeluk Islam, masuk ke dalam barisan para pengikut Rasulullah. Masuknya Umar menandakan sebuah titik balik yang penting, di mana dakwah mulai berubah dari yang sembunyi-sembunyi menjadi jelas dan terbuka.
“Sejak masuk Islamnya Umar bin Khattab di rumah Al-Arqam, dakwah lalu berpindah dari fase clandestine menjadi dakwah yang lebih terbuka,” ujar Musyaddad.
Mengapa Rasulullah SAW memilih rumah Al-Arqam sebagai markas dakwah, bukan rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Siti Khadijah RA? Musyaddad menjelaskan bahwa ada beberapa alasan yang dibahas oleh para sejarawan.
Pertama, Al-Arqam telah memeluk Islam, tetapi keislamannya belum diketahui oleh kaum Quraisy. Hal ini membuat rumahnya tidak menjadi target pengawasan. “Rumahnya tidak ter-capture oleh radar kaum Quraisy,” katanya.
Kedua, Al-Arqam berasal dari Bani Makhzum, sebuah kabilah yang menjadi rival dari Bani Hasyim, tempat ia berada. Tokoh paling berpengaruh dari kabilah ini adalah Abu Jahal. Dalam konteks ini, kaum Quraisy tidak pernah menyangka bahwa rumah yang mereka cari-cari berada di daerah yang mereka anggap aman. Ini adalah strategi yang sangat brilian dalam konteks sejarah dakwah Islam.
Ketiga, Al-Arqam merupakan seorang pemuda yang baru berusia 13 hingga 14 tahun ketika ia memeluk Islam. Meskipun usianya masih muda, rumahnya menjadi saksi lahirnya pusat pendidikan Islam pertama di Makkah. Musyaddad juga menekankan bahwa Al-Arqam menjadi simbol penting kunjungan generasi muda dalam dakwah Islam. Oleh karena itu, banyak lembaga pendidikan dan kaderisasi Islam di seluruh dunia yang menggunakan nama Darul Arqam.
“Al-Arqam saat masuk Islam adalah ikon anak muda. Rumahnya menjadi sangat legendaris hingga saat ini,” ujarnya. Dari rumah sederhana yang kini tak ada, Rasulullah SAW meletakkan fondasi yang akan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.
Selain menjadi pusat pembelajaran dan dakwah, Darul Arqam juga berperan dalam menciptakan para pemimpin masa depan yang akan membawa misi Rasulullah SAW. Dengan pendidikan dan bimbingan yang diberikan di sana, para sahabat yang awalnya hanya sekelompok kecil akan menjadi jembatan penyebaran Islam yang akan menjangkau seluruh pelosok.
Dalam konteks saat ini, kita harus mengambil pelajaran dari kisah Darul Arqam. Meskipun tantangan bisa datang dari segala arah, penting bagi kita untuk tetap berkomitmen dalam menyampaikan kebaikan dan nilai-nilai Islam. Melalui pendidikan dan penguasaan ilmu, kita dapat mempersiapkan generasi yang akan datang untuk terus memperjuangkan dan meneruskan misi dakwah.
Mari kita refleksikan sejenak mengenai peran kita sebagai umat Islam untuk menjaga warisan yang telah ditinggalkan. Apakah kita sudah berkontribusi dengan cara yang sepatutnya? Setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi penggerak perubahan positif, bahkan dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar.
Akhir kata, darisana kita mengajak seluruh umat untuk menggali lebih dalam sejarahnya, meresapi setiap pelajaran yang ada dan mengambil tindakan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dengan semangat tersebut, mari kita sambut kesempatan untuk menjalankan ibadah haji atau umrah dengan hati yang penuh, serta tekad untuk meneruskan dakwah di jalan kebaikan.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman spiritual yang mendalam di tanah suci Makkah. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs kami dan persiapkan diri Anda untuk perjalanan yang tak akan terlupakan!



