Haji Mabrur atau Mardud? Pahami Tanda-tandanya Sejak di Tanah Suci.


Jakarta

Ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam yang menjadi impian setiap Muslim di seluruh dunia. Melalui haji, setiap individu mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan fisik ke Tanah Suci, yang juga menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna, harapan, dan transformasi pribadi. Pelaksanaan haji bukan sekadar ritual, tetapi merupakan saat yang sakral bagi setiap jemaah untuk memperbaharui iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setiap tahun, jutaan Muslim dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong menuju Makkah untuk menjalani ibadah haji. Mengingat pentingnya momen ini, adalah wajar jika setiap jemaah berharap agar ibadahnya diterima dan kembali dengan gelar haji mabrur. Namun, bagaimanakah cara membedakan antara haji mabrur dan haji mardud? Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi ciri-ciri haji mabrur dan haji mardud agar bisa memahami makna nyata dari ibadah yang suci ini.

Ciri-ciri Haji Mabrur

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT karena dilaksanakan sesuai dengan syariat dan adab-adab yang ditentukan. Salah satu indikator haji mabrur adalah perubahan positif dalam diri seseorang setelah menyelesaikan ibadah tersebut. Dalam buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah yang ditulis oleh M. Syukron Maksum, Rasulullah SAW memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri haji mabrur yang patut kita renungkan.

Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadits, “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ” yang berarti: “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian”. Ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan hanya sekadar ritual semata, tetapi harus diiringi dengan perilaku sosial yang baik.

1. Santun dalam Bertutur Kata (Thayyibul Kalam)

Sikap santun dalam berbicara adalah ciri pertama dari haji mabrur. Hal ini mencerminkan upaya untuk menjaga ucapan, menghindari perkataan kasar, serta berbicara dengan lembut. Di Tanah Suci, sikap ini sangat penting dalam menjaga suasana ibadah yang kondusif.

Baca juga:  KPK Yakin Eks Menag Yaqut Hadiri Klarifikasi Penyelidikan Kuota Haji

Contoh nyata dari sifat thayyibul kalam adalah:

  • Mengucapkan kata-kata yang lembut dan penuh kesabaran saat menghadapi keramaian, misalnya tetap bersikap sopan saat antre.
  • Mengucapkan doa, dzikir, atau salam kepada sesama jemaah sebagai bentuk menyebarkan kebaikan.

2. Menebarkan Kedamaian (Ifsya’us Salam)

Mampu menebarkan kedamaian adalah salah satu ciri haji mabrur yang mencerminkan sikap membawa ketenangan bagi orang lain. Mengucapkan salam kepada jemaah lain, menjaga sikap, dan menghindari konflik adalah bagian dari perbuatan baik yang dianjurkan.

Contoh-contoh menebarkan kedamaian di Tanah Suci antara lain:

  • Mengucapkan salam kepada sesama jemaah dari berbagai negara untuk mempererat ukhuwah Islamiyah.
  • Menahan emosi dan bersikap sabar saat menghadapi situasi yang tidak nyaman, seperti kerumunan.

3. Memiliki Kepedulian Sosial (Ith’amut Tha’am)

Memiliki kepedulian sosial adalah ciri lain dari haji mabrur. Hal ini tercermin dari niat dan tindakan untuk berbagi rezeki, membantu jemaah lain yang membutuhkan, serta menumbuhkan rasa empati.

Contoh konkret dari sifat ith’amut tha’am di Tanah Suci meliputi:

  • Membagikan makanan atau minuman kepada sesama jemaah yang kelelahan.
  • Menyisihkan rezeki untuk sedekah, seperti memberikan makanan kepada jemaah lain di sekitar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Pengertian Haji Mardud dan Ciri-cirinya

Haji mardud berasal dari kata “radda-yaruddu” yang berarti menolak atau mengembalikan. Dalam konteks ibadah haji, haji mardud mengacu kepada ibadah yang tidak diterima oleh Allah SWT. Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Asrar al-Haj, seseorang dapat dicap melakukan haji mardud jika ibadahnya tercemar dengan perbuatan maksiat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa menyengaja datang ke Baitullah ini sebab pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT“. Dalam hadits tersebut, disebutkan bahwa jika seseorang menjadikan ibadah haji bagian dari tujuan yang tidak baik, malaikat akan mengumumkan bahwa hajinya ditolak.

Baca juga:  Pengalaman Jemaah Umrah Mandiri Tanpa Perantara: Lebih Fleksibel dan Ekonomis

Dari bukunya Ensiklopedia Haji & Umrah, KH Ahmad Chodri Romli menjelaskan beberapa ciri yang dapat dikenali dari haji mardud:

  • Niat yang tidak tulus, seperti hanya ingin mengejar status sosial atau pujian.
  • Pelaksanaan manasik haji yang tidak sesuai syariat, misalnya mengabaikan otoritas atau bimbingan.
  • Masih membawa kebiasaan buruk, seperti maksiat, selama menjalani ibadah.

Meskipun kita semua berharap untuk kembali dari Haji dengan gelar haji mabrur, penting untuk memahami bahwa baik haji mabrur maupun mardud memiliki pelajaran berharga yang dapat diambil. Dengan memahami kedua istilah ini, kita bisa lebih mempersiapkan diri, baik secara mental, spiritual, maupun finansial dalam menyambut panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji.

Pastikan bahwa niat Anda murni dan tindakan Anda sejalan dengan ajaran agama untuk mendapatkan haji mabrur yang sejati. Semoga pembaca sekalian dapat menjalani ibadah haji dengan sepenuh hati dan selalu menjaga perilaku baik di manapun berada.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Kunjungi kami untuk mempersiapkan perjalanan Haji Anda yang penuh berkah!

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top