Jakarta
Menunaikan ibadah haji adalah impian bagi banyak umat Islam. Namun, tidak semua orang yang pulang dari Tanah Suci mengemban haji yang mabrur. Beberapa individu bahkan mungkin secara fisik telah melaksanakan ibadah ini, tetapi perubahan sikap dan perilaku mereka tidak mencerminkan hal tersebut. Fenomena ini perlu diwaspadai, karena bisa jadi ini menandakan bahwa ibadah haji yang mereka lakukan belum diterima oleh Allah.
Dalam buku Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu, yang ditulis oleh Abdullah Gymnastiar, dijelaskan secara mendalam makna haji mabrur dan haji mardud. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, sedangkan haji mardud adalah haji yang tertolak. Tanpa menjaga kualitas dan integritas ibadah, sangat mungkin haji yang telah dilaksanakan tidak membawa perubahan yang berarti dalam diri individu tersebut.
Peringatan dari Rasulullah tentang Haji yang Tertolak
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Haj, yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman, terdapat sebuah hadits riwayat Abu Hurairah yang menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits itu, beliau mengatakan:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Barang siapa menyengaja datang ke Baitullah ini sebab pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Saat ia bersiap untuk berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, dan kendaraan itu berjalan, ia berkata, ‘Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),’ maka malaikat berseru dari langit menjawab, ‘Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk.’
Ciri-ciri Haji Mabrur
Dalam buku 65 Kultum Kamtibmas oleh Syarif Hidayatullah, dijelaskan tentang beberapa ciri haji mabrur yang diungkapkan dalam riwayat Imam Ahmad. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi, “Apa itu haji mabrur?”, Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.”
Kemudian, sebagaimana dicatat oleh Imam Badrudin Al-Aini dalam Umdatul Qari, Rasulullah menjelaskan lebih lanjut, “Memberikan makanan dan bersikap santun dalam berkata.” Hadits ini dinyatakan sahih namun tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Tanda Haji Tidak Mabrur
Dari sumber yang telah disebutkan, kita dapat mengenali tanda-tanda haji yang belum mabrur berdasarkan sikap dan perilaku setelah pulang, di antaranya adalah:
1. Lisan Tidak Terjaga
Salah satu indikator yang jelas adalah pertuturan seseorang. Jika seorang jemaah haji masih mengeluarkan kata-kata kasar, banyak berbicara menyakitkan, atau tidak menunjukkan perubahan positif, maka hal ini menjadi sinyal bahwa ibadah hajinya belum mabrur.
2. Menyebarkan Kebencian
Perilaku yang muncul setelah kepergian ke Tanah Suci seharusnya membawa kedamaian. Jika seseorang justru banyak menciptakan konflik, menyebarkan permusuhan, atau merusak suasana di sekelilingnya, maka ini adalah pertanda bahwa ibadah hajinya tidak diterima.
3. Tidak Peduli terhadap Sesama
Sikap acuh tak acuh terhadap orang lain juga mencerminkan bahwa haji yang dilaksanakan tidak membawa dampak positif. Salah satu ciri utama dari haji mabrur adalah memiliki rasa kepedulian yang tinggi untuk membantu dan berbagi, terutama kepada mereka yang kurang beruntung.
4. Aib Terbuka di Tengah Masyarakat
Setelah menunaikan haji, jika seseorang yang melakukan ibadah ini justru dikenal dengan sikap buruk, maka hal tersebut patut menjadi bahan renungan. Ini menjadi pertanda kualitas ibadah yang telah dilaksanakan mungkin belum sesuai harapan.
Penyebab Haji Tidak Mabrur
Berbagai faktor dapat menyebabkan haji tidak mencapai derajat mabrur. Berikut adalah beberapa penyebab yang umum terjadi:
- Berangkat dengan harta yang tidak halal: Segala sesuatu yang bersifat haram akan mempengaruhi ibadah, termasuk haji.
- Menjalani ibadah tanpa kesungguhan: Jika seseorang tidak sungguh-sungguh selama melaksanakan ibadah, hasilnya pun tidak akan maksimal.
- Lebih fokus pada aktivitas di luar ibadah: Terlalu banyak terlibat dalam kegiatan duniawi di saat melaksanakan ibadah dapat mengalihkan perhatian dari makna haji yang sebenarnya.
- Tidak menjaga sikap selama dan setelah haji: Sikap yang baik harus tetap dipertahankan setelah kembali dari haji, agar ibadah yang dilakukan menjadi berharga.
Penting untuk diingat bahwa ibadah haji bukan semata-mata tentang perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga perubahan hati dan perilaku yang harus terwujud setelahnya. Wallahu a’lam.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Kunjungi kami untuk mendapatkan informasi dan persiapan haji yang lebih mendalam!



