Cuaca Ekstrem di Makkah: Waktu Ideal untuk Jemaah Beribadah di Masjidil Haram



Makkah

Tana Suci Makkah, tujuan ibadah haji, bukan hanya tempat yang dihormati dan dikagumi, tetapi juga bisa menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, terutama di tengah terik matahari yang menyengat. Oleh karena itu, sangat penting bagi para jemaah untuk menjaga stamina dan kesehatan mereka, terutama selama menjalani ibadah yang padat menjelang puncak haji.

Dalam dua hari berturut-turut, dari Sabtu (2/5) hingga Minggu (3/5), sejumlah jemaah haji lansia asal Indonesia mengalami kelelahan dan jatuh akibat paparan panas setelah melaksanakan umrah wajib. Salah satu insiden yang menonjol terjadi di jalur menanjak menuju Terminal Jabal Ka’bah, dekat kawasan hotel di Makkah. Di sana, dua jemaah lansia laki-laki hampir pingsan setelah berjuang melawan panas terik saat menjelang siang. Dugaan awal menyatakan bahwa mereka mengalami gejala heatstroke, yang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak petugas penanganan krisis dan pertolongan pertama pada jemaah haji (PKPPJH) segera memberikan bantuan. Salah satu jemaah yang keadaannya sangat lemah terpaksa diangkat ke kursi roda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di tempat yang lebih teduh. Kejadian serupa terulang keesokan harinya ketika seorang lansia laki-laki tumbang di trotoar. Untungnya, petugas segera datang dan menyiramkan air dingin ke tubuhnya untuk mengurangi suhu tubuh sembari menunggu ambulans. Sesaat kemudian, kesadarannya mulai pulih, meski ia masih tampak lemas.

Jemaah lain yang juga mengalami kelelahan, seorang lansia perempuan, beristirahat di trotoar. Beberapa di antara mereka sempat ditawari bantuan kursi roda, tetapi tetap memilih untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Salah satu jemaah mengungkapkan, “Saya ini punya tensi rendah,” yang menunjukkan pentingnya kesadaran akan kesehatan di tengah ibadah yang sangat membutuhkan stamina ini.

Baca juga:  Awal Mula Kontroversi Kuota Haji Ini

Waktu yang Tepat untuk Ibadah di Masjidil Haram Saat Cuaca Ekstrem

Kejadian-kejadian tersebut mayoritas terjadi antara pukul 10.00 hingga tengah hari, ketika suhu udara di Makkah mengarah di atas 36 derajat Celsius, bahkan mencapai level ekstrem 42 derajat Celsius pada Minggu (3/5). Perbedaan iklim yang signifikan antara Makkah dan Indonesia ini memengaruhi kondisi fisik jemaah, terutama bagi mereka yang berusia lanjut, yang cukup rentan mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan.

Menurut Mayor CKM dr Ridwan Siswanto, yang menjabat di Kasi PKPPJH untuk Lansia dan Disabilitas di Daker Makkah, mereka langsung memeriksa jemaah yang tumbang. “Kami cek tanda vital, termasuk tekanan darah dan saturasi. Pada saat itu, saturasinya sempat turun di bawah 95,” ungkapnya saat ditemui malam itu di kantor daerah kerja Makkah. Ia menekankan bahwa jemaah lansia adalah kategori risiko tinggi dan memerlukan perhatian ekstra dari petugas maupun keluarga yang mendampingi.

Dr. Ridwan mengingatkan bahwa sangat penting bagi jemaah untuk tidak memaksakan diri beribadah di Masjidil Haram, terutama ketika suhu sangat tinggi. Waktu yang lebih aman untuk menjalankan ibadah adalah setelah subuh atau menjelang magrib. Ia juga menyoroti kebiasaan beberapa jemaah yang cenderung beribadah berulang kali tanpa memperhitungkan kondisi fisik mereka.

“Sering dianggap mumpung sudah berada di Tanah Suci, jemaah berusaha untuk terus bolak-balik ke Masjidil Haram tanpa mempertimbangkan kondisi fisik mereka,” ujarnya. Namun, puncak ibadah haji di tempat-tempat seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina membutuhkan stamina yang lebih besar. “Jangan sampai, di sana, jemaah hanya memiliki sisa tenaga. Penting untuk merencanakan strategi ibadah agar tidak kehabisan tenaga menjelang waktu puncak,” imbuhnya.

Baca juga:  BPIH 2026 Menurun Rp 2 Juta, Ini Besaran Subsidi Pemerintah untuk Calon Jemaah

Demi mencegah situasi serupa, petugas khusus telah menyiapkan beberapa program di hotel untuk mencegah jemaah, khususnya lansia, terlalu aktif di luar ruangan. Kegiatan seperti senam lansia, tausiah (ceramah agama), hingga edukasi kesehatan akan digencarkan sebagai alternatif ibadah dan aktivitas dalam ruangan.

Selain itu, pihak petugas juga melakukan sosialisasi keselamatan melalui beragam media, termasuk penyebaran informasi langsung di hotel-hotel tempat menginap jemaah. Informasi tersebut sangat penting agar setiap jemaah diingatkan untuk selalu menjaga kesehatan, hidrasi, dan pembatasan aktivitas di luar ruangan selama cuaca ekstrem.

Tidak diragukan lagi, menjalankan ibadah haji adalah pengalaman yang tak tertandingi. Namun, untuk dapat menikmati pengalaman tersebut dengan baik, para jemaah perlu mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Ini bukan hanya sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap kesehatan pribadi mereka.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari persiapan tersebut, penting untuk menjaga kesehatan, mematuhi saran dari petugas kesehatan, dan selalu waspada terhadap tanda-tanda kelelahan. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika merasa tidak enak badan, dan diskusikan tentang rencana ibadah dengan keluarga atau teman yang mendampingi. Ibadah yang aman dan memuaskan adalah prioritas utama dalam perjalanan suci ini.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut: Haji yang Tak Terlupakan

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top