Pemerintah Indonesia, bersama otoritas Arab Saudi, masih melakukan pencarian intensif terhadap tiga jemaah haji Indonesia yang belum diketahui keberadaannya. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar usai penutupan operasional haji tahun 1446 H / 2025 di Jakarta.
Ketiga jemaah yang hilang—Nurimah (80) dari Embarkasi Palembang (PLM 19), Sukardi (67) dari Embarkasi Surabaya (SUB 79), dan Hasbulah (73) dari Embarkasi Banjarmasin (BDJ 07)—semua memiliki riwayat demensia. Masing-masing dilaporkan hilang pada tanggal berbeda saat berada di Makkah.
Penyebab Hilangnya Jemaah
- Penyakit Demensia: Meski kondisi ini tidak terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan awal di Indonesia, keadaan memburuk setelah berada di Arab Saudi, terutama ketika suhu ekstrem mencapai sekitar 50°C, yang diduga memperburuk orientasi mental mereka.
- Tidak Ada Identitas: Banyak jemaah melepas gelang identitas atau bahkan meninggalkan paspor dan kalung tanda pengenal di penginapan. Hal ini menyulitkan pendeteksian dan pencarian mereka.
Upaya dan Proses Pencarian
PPIH Arab Saudi telah membentuk dua tim pencarian yang aktif menyisir berbagai lokasi, termasuk rumah sakit di Makkah dan Jeddah, hotel ditinggalkan jemaah, area sekitar Masjidil Haram, dan melakukan koordinasi dengan KJRI, pihak syarikah, dan imigrasi Syumaisy.
Pemerintah Arab Saudi juga merencanakan sistem pencocokan DNA dari keluarga jemaah yang hilang terhadap jenazah tak dikenal di sana, agar proses identifikasi berjalan lebih akurat.
Tanggapan dan Tekanan Publik
Anggota DPR, khususnya anggota Komisi VIII seperti Mahdalena (PKB), mendesak pemerintah untuk meningkatkan efektivitas pencarian dengan memanfaatkan teknologi pelacakan, rekaman CCTV, dan data sistem Siskohat demi memastikan transparansi dan keselamatan warga negara.
Sedangkan Ketua Timwas Haji DPR RI Cucun Ahmad Syamsurizal menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dan tindak lanjut yang kolaboratif antara pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi agar penanganan kasus ini lebih profesional dan cepat