Jakarta – Cerita yang menginspirasi datang dari seorang tukang sol sepatu asal Damaskus, Ali bin al-Muwaffaq, yang hidup di zaman tabiin. Meskipun ia telah mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji, prioritaskannya terhadap kehidupan tetangganya membawa pada keputusan yang mengejutkan. Kisah ini bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi bahan perbincangan di kalangan malaikat.
Dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, diceritakan bahwa pada suatu musim haji, seorang ulama terkemuka bernama Abdullah bin al-Mubarak dari Bagdad, menjalani ibadah haji. Setelah ibadah tersebut, ia tertidur dan mengalami mimpi yang luar biasa. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat yang turun dari langit, berdiskusi mengenai jemaah haji yang mabrur pada tahun tersebut.
Dalam percakapan itu, salah satu malaikat mengungkapkan bahwa dari 600 ribu jemaah haji, tidak satu pun yang hajinya diterima. Namun, ada satu orang yang tetap dianggap beruntung: dia adalah Ali bin al-Muwaffaq, meskipun ia tidak berangkat haji. Sebaliknya, semua dosanya diampuni. Mimpi ini sangat mengguncang Abdullah bin al-Mubarak, dan dengan segera ia berangkat ke Damaskus untuk mencari Ali bin al-Muwaffaq berdasarkan petunjuk yang ia terima dalam mimpi.
Selama perjalanan, Abdullah mengelilingi kota hingga akhirnya ia menemukan rumah si tukang sepatu. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, Abdullah meminta Ali untuk bercerita tentang pengalamannya. Ali kemudian menceritakan bagaimana selama 40 tahun, ia menabung dari hasil bekerja sebagai tukang sepatu. Ia mengumpulkan 350 dirham sebagai modal untuk berangkat haji dan memutuskan untuk melaksanakan ibadah tersebut pada musim itu.
Namun, saat sedang bersiap, ada suatu peristiwa yang mengubah segalanya. Istri Ali, yang sedang mengandung, merindukan masakan tetangga mereka. Ia meminta suaminya untuk meminta sedikit kepada tetangga tersebut. Ali kemudian pergi dan menjelaskan kebutuhan istrinya kepada tetangganya itu. Dengan penuh kesedihan, tetangga itu memberitahukan bahwa mereka baru saja menemukan dan memasak daging keledai yang tidak halal.
Mendengar cerita menyedihkan itu membuat hati Ali terbakar. Tanpa ragu, ia mengambil 350 dirham yang telah ia tabung untuk ibadah haji dan memberikannya kepada keluarganya yang membutuhkan. “Demikianlah perjalanan hajiku,” ungkapnya, menegaskan bahwa membantu orang lain jauh lebih penting baginya daripada menunaikan haji.
Kisah Ali bin al-Muwaffaq bukan sekadar sebuah cerita, tetapi merupakan pelajaran berharga mengenai makna sejati ibadah dan keutamaan berbagi. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam rutinitas dan tujuan pribadi yang mengabaikan lingkungan sekitar kita. Namun, contoh dari Ali menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama bisa jadi lebih berharga daripada semua ritual ibadah yang kita jalani.
Saat kita merenung, kita diberi kesempatan untuk bertanya kepada diri kita sendiri: “Apa arti haji bagi kita?” Apakah itu sekadar sebuah perjalanan menuju tanah suci ataukah perjalanan spiritual yang memberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan merangkul lingkungan kita? Haji sejatinya bukan hanya tentang fisik tetapi juga mental dan spiritual.
Menurut banyak ulama dan tokoh agama, haji adalah waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan keimanan. Ali bin al-Muwaffaq memberi contoh nyata bagaimana spiritualitas dan kepedulian sosial bisa saling melengkapi. Tindakan Ali menunjukkan bahwa terkadang pengorbanan yang lebih bernilai adalah ketika kita memilih untuk membantu orang lain, bahkan ketika kita memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah besar.
Dalam konteks haji modern, ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama. Dengan menggunakan teknologi dan jaringan sosial, kita bisa memperluas jangkauan bantuan kita. Misalnya, mengikuti program bantuan sosial, berpartisipasi dalam kegiatan amal, atau bahkan hanya dengan memberikan dukungan moral kepada mereka yang membutuhkan.
Setiap tindakan kecil juga memiliki dampak besar. Kita tidak perlu berkecil hati jika kita tidak mampu melakukan hal-hal besar. Tindakan sederhana seperti memberikan makanan kepada yang lapar atau menyuport yang sedang kesusahan sudah cukup memberikan dampak yang luas.
Melalui cerita Ali bin al-Muwaffaq, kita diingatkan bahwa haji merupakan ibadah yang tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengabdian kepada sesama. Dalam setiap langkah kita menuju ibadah, kita harus ingat untuk menjaga hati dan pikiran agar selalu terbuka terhadap kebutuhan orang lain.
Keberanian Ali untuk mengutamakan kepentingan orang lain di atas kebutuhannya sendiri adalah pelajaran yang perlu kita bawa dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ketika kita berfokus pada memberi, kita akan menemukan arti sejati dari keberadaan kita. Mari kita berkomitmen untuk menjadi lebih peka terhadap lingkungan, membantu sesama, dan memaknai haji sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Apakah Anda siap bergabung dalam perjalanan spiritual yang tidak hanya membawa Anda menuju tanah suci tetapi juga membawa ke perubahan positif dalam hidup Anda dan lingkungan sekitar? Ayo, luangkan waktu untuk membahas lebih lanjut tentang bagaimana cara kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai positif dari kisah Ali bin al-Muwaffaq dalam hidup kita sehari-hari.



