Jakarta
Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, baru-baru ini mengemukakan kritik konstruktif terkait rencana pergerakan jemaah haji dalam fase Masyair. Dalam rapat kerja yang dilaksanakan oleh Kementerian Haji dan Umrah dengan Komisi VIII DPR RI pada tanggal 25 November 2025, Selly mempertegas kebingungannya mengenai waktu kedatangan jemaah.
Menurut paparan yang disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, disebutkan bahwa jemaah haji akan berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah, dan selanjutnya menuju Mina dengan waktu kedatangan yang ditetapkan paling lambat jam 11 siang pada tanggal 10 Juli 2026. Selly menilai bahwa skemanya terkesan kurang memperhatikan faktor keselamatan jemaah, mengingat waktu tersebut bertepatan dengan kondisi cuaca terpanas di Arab Saudi.
“Saya agak bingung, semoga saya tidak salah memahami. Dari yang disampaikan oleh pak menteri, pada waktu jemaah bergerak dari Muzdalifah menuju Mina, mereka akan menghadapi cuaca ekstrem. Ini sangat berisiko bagi kesehatan dan keselamatan jemaah,” ungkap Selly tegas.
Politisi yang berasal dari PDI-P itu mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan aspek keselamatan dalam mengatur skenario pergerakan jemaah. Ia melanjutkan bahwa skema tersebut seharusnya direvisi untuk memberikan keamanan lebih kepada para jemaah selama proses ibadah haji yang sakral ini.
“Dari paparan yang ada, jemaah diperkirakan akan tiba di Mina saat hampir pukul 11 siang. Ini adalah waktu yang sangat tidak ideal,” katanya. “Kami harus mempertimbangkan cuaca dan kesehatan jemaah. Jika perlu, skema bisa dijadwalkan agar jemaah tiba di Mina pada pagi hari, siang hari adalah waktu terpanas,” tambah Selly.
Ia bahkan menyarankan agar jemaah haji sudah tiba di Mina pada pukul 7 atau 9 pagi agar mereka dapat beristirahat dan bersiap untuk melaksanakan ibadah dengan lebih baik. “Ketika matahari sudah terik, setiap aktivitas akan menjadi semakin sulit,” ujarnya. Dalam pemeriksaan terhadap fasilitas, Selly juga menyoroti kondisi tempat naungan di Muzdalifah yang minim, di mana tidak ada tenda atau fasilitas memadai untuk jemaah. Situasi ini berpotensi menyulitkan jemaah jika terjadi keterlambatan dalam pergerakan mereka.
“Di Muzdalifah, kita tahu bahwa tidak ada tenda, tidak ada fasilitas yang memadai. Ini adalah faktor risiko yang harus diantisipasi dengan bijaksana,” tegasnya. Selly mengharapkan Kementerian Haji dan Umrah agar lebih cermat dalam merencanakan setiap tahapan haji untuk menjamin keselamatan semua peserta.
Keselamatan jemaah haji menjadi prioritas utama dan harus dipertimbangkan dalam setiap tahap pelaksanaan ibadah. Apalagi, setiap tahun, jumlah jemaah yang berangkat haji terus meningkat, sehingga perencanaan yang tepat dan efektif sangat diperlukan.
Penting untuk dicatat bahwa ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang tidak hanya membutuhkan persiapan fisik, tetapi juga psikologi dan pengelolaan waktu yang baik. Dengan penjadwalan yang lebih tepat, diharapkan jemaah dapat merasa lebih nyaman dan tenang dalam melaksanakan ibadahnya.
Ketika rencana perjalanan tidak jelas atau terlalu padat, hal ini dapat menyebabkan stres dan ketidaknyamanan bagi jemaah. Oleh karena itu, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan pengalaman haji, semua pihak terkait harus bekerja sama untuk merevisi dan memfinalisasi skema pergerakan jemaah haji yang lebih baik.
Jemaah terdiri dari berbagai lapisan usia dan kesehatan, terutama yang sudah lanjut usia, yang mungkin lebih rentan terhadap cuaca ekstrem. Sangat penting untuk mempertimbangkan semua aspek ini dalam perencanaan perjalanan ibadah haji.
Dengan mempertimbangkan semua masukan dan kritik yang ada, diharapkan Kementerian Haji dan Umrah dapat melakukan perbaikan demi kepentingan jemaah. Buatlah skenario yang tidak hanya efisien tetapi juga nyaman, aman, dan meninggalkan kenangan indah bagi jemaah.
Pada akhirnya, pengalaman menjalankan ibadah haji sepatutnya tidak hanya dilihat dari proses pelaksanaan belaka, tetapi juga bagaimana jemaah merasakan perjalanan spiritual tersebut. Dengan perencanaan yang matang, pelaksanaan ibadah haji bisa menjadi waktu yang tidak hanya sakral tetapi juga menyenangkan.
Melalui sesi rapat kerja yang melibatkan berbagai pihak, kritik dan masukan seperti yang disampaikan oleh Selly sangat penting untuk peningkatan kualitas dan kenyamanan ibadah haji ke depan. Setiap tahapan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang untuk memastikan semua jemaah mendapatkan layanan dan fasilitas yang terbaik.
Dengan kolaborasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan semua pihak terkait, kita berharap akan ada terobosan baru dalam pembangunan infrastruktur dan layanan untuk mendukung pengalaman haji yang lebih baik di masa mendatang.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Kunjungi kami di Hajicepat untuk mempersiapkan perjalanan haji Anda yang sempurna!



