Jakarta – Haji adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting bagi setiap Muslim. Proses ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang mendalam. Haji mabrur, sebuah konsep yang sangat diidam-idamkan oleh setiap jemaah haji, menggambarkan ibadah yang diterima oleh Allah SWT. Ini adalah harapan setiap Muslim—sebuah wujud dari keikhlasan dan pengabdian terbaik kepada Tuhan.
Mengapa haji mabrur begitu penting? Rasulullah SAW menekankan betapa agungnya haji yang mabrur dalam sabdanya, di mana beliau menyatakan bahwa “Haji yang mabrur tidak ada balasan lain baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim). Pernyataan ini menegaskan betapa berharganya haji yang diterima dan menjadi pendorong bagi setiap Muslim untuk berusaha melakukan yang terbaik dalam ibadah haji mereka.
Menurut buku Catatan Ramadhan karya Kholid A Harras, istilah “mabrur” ini berasal dari bahasa Arab yang merujuk pada banyak hal, termasuk pengertian diterima, benar, dan sebagainya. Dalam konteks haji, maka makna ini semakin mendalam. Haji mabrur tidak hanya melibatkan aspek ritual, tetapi juga membawa perubahan positif dalam perilaku dan kepribadian seseorang setelah menunaikannya.
Seperti Apa Ciri Haji Mabrur?
Untuk memahami lebih jauh tentang haji mabrur, ada beberapa ciri yang dapat menjadi patokan. Ini diambil dari buku 65 Kultum Kamtibmas oleh Syarif Hidayatullah dan buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah karya M Syukron Maksum. Berikut adalah beberapa ciri tersebut:
-
Santun dalam berkata-kata (thayyibul kalam): Seorang jemaah haji yang mabrur akan memilih kata-kata yang baik dan sopan.
-
Menebarkan kedamaian (ifsya’us salam): Haji mabrur akan membawa dampak positif, mendorong individu tersebut untuk menyebarluaskan kedamaian di lingkungan.
-
Memiliki kepedulian sosial (ith’amut tha’am): Jemaah yang mabrur cenderung lebih memperhatikan sesama, terutama dalam berkegiatan sosial.
-
Semakin taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya: Haji yang diterima biasanya menguatkan iman dan taqwa seseorang.
-
Akhlaknya lebih baik dan banyak bersedekah: Perubahan diri ini terlihat dari sikap mereka yang lebih dermawan.
-
Semangat berdakwah: Haji mabrur juga ditandai oleh peningkatan keinginan untuk berbagi ilmu.
-
Baik dalam menjaga amanah: Kejujuran dan integritas menjadi salah satu karakteristik penting.
-
Suka menolong sesama: Tindakan membantu orang lain menjadi kebiasaan.
-
Gemar menyambung kembali silaturahmi: Jemaah yang mabrur biasanya lebih aktif dalam menjaga hubungan kekeluargaan.
-
Semakin mencintai ilmu dan majelis ilmu: Ciri ini menunjukkan bahwa haji yang diterima memperkuat semangat belajar.
Doa Haji Mabrur yang Bisa Diamalkan
Salah satu cara untuk memohon haji yang diterima adalah dengan melafazkan doa. Dalam buku Untaian Mutiara Doa karya Ali Manshur, doa berikut ini bisa dibaca oleh jemaah haji:
- Doa Pertama:
- اللهُمَّ اجْعَلْهَا حَاجًا مَبْرُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا
- Allaahummaj-‘alhaa hajjan mabruuran wa dzanban maghfuuraan.
- Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ia (ibadah) sebagai ibadah haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”
Dalam buku Fiqh As Sunnah oleh Sayyid Sabiq, ada juga doa haji yang dapat diamalkan:
- Doa Kedua:
- زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
- Zawwadakallaahut-taqwaa, wa ghafara dzan-baka, wa yassara lakal-khaira haitsu maa kunta.
- Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada.”
Cara Mencapai Haji Mabrur
Mencapai haji mabrur adalah keinginan hampir semua jemaah haji. Berikut adalah beberapa cara untuk mewujudkannya, yang dikutip dari buku Kiat Menggapai Haji Mabrur Berlandaskan Dalil Al-Qur’an dan As Sunnah serta Perspektif Para Umat karya Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi:
-
Mengetahui syarat wajib dan rukun haji: Memahami aspek teknis haji adalah langkah awal yang sangat penting.
-
Membersihkan diri dari dosa: Proses pembersihan diri tidak hanya fisik tetapi juga dari dosa-dosa yang ada.
-
Naik haji dengan harta yang halal: Memastikan bahwa dana untuk haji datang dari sumber yang halal adalah kunci.
-
Khusyuk dalam melaksanakan haji: Menghadirkan hati dan konsentrasi dalam setiap rangkaian ibadah.
-
Mengeluarkan kewajiban zakat: Ini adalah bagian dari pembersihan harta dan bukti kepedulian terhadap sesama.
-
Beribadah dengan sikap ihsan: Usahakan untuk memberikan yang terbaik dalam ibadah.
Kesimpulan
Haji yang mabrur bukanlah sekadar tentang memenuhi kewajiban ritual, tetapi tentang bagaimana melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk meraih haji yang mabrur melalui persiapan yang baik, doa yang tulus, dan perubahan sikap yang lebih baik setelah kembali dari Tanah Suci. Semoga kita semua bisa menjadi di antara mereka yang mendapatkan haji yang diterima dan menjadi bagian dari golongan yang mendapatkan surga-Nya.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Kunjungi kami sekarang juga untuk meraih pengalaman haji yang istimewa!
(aeb/lus)



