Jakarta – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) telah mengangkat komitmennya untuk meningkatkan nilai manfaat dana haji melalui penguatan ekosistem ekonomi perhajian, sejalan dengan arahan Komisi VIII DPR RI. Dalam upaya ini, Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya didorong oleh parlemen untuk mencapai nilai manfaat hingga angka dua digit, sebuah tujuan ambisius yang membutuhkan strategi inovatif.
Untuk mencapai target tersebut, BPKH mengembangkan strategi investasi yang lebih agresif, terutama dalam sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan ibadah haji. “Optimalisasi nilai manfaat tidak bisa lagi hanya mengandalkan instrumen surat berharga, terutama di tengah situasi suku bunga rendah seperti saat ini,” tegas Fadlul dalam perayaan Milad ke-8 BPKH di Jakarta pada Jumat (12/12/2025).
Menariknya, ekosistem perhajian di Indonesia membawa potensi besar. “Pasar yang jelas dan captive market yang kuat menjadikan ekosistem ini berharga,” lanjutnya. BPKH menyadari bahwa selain mempertahankan efisiensi biaya dalam penyelenggaraan haji, investasi strategis di sektor ini juga dapat meningkatkan pendapatan secara signifikan.
Dengan jumlah jemaah haji reguler yang mencapai 221 ribu orang per tahun serta tingginya angka jemaah umrah yang hampir mencapai 2 juta orang per tahun, oportunitas untuk memperkuat pertumbuhan dana kelolaan pun terbuka lebar. “Dengan melakukan optimalisasi di sektor ini, kami yakin imbal hasil investasi dapat mengalami peningkatan yang lebih signifikan,” ungkap Fadlul.
Data yang dihimpun hingga Agustus 2025 menunjukkan bahwa BPKH telah mencatat nilai manfaat sebesar Rp 810 triliun, tumbuh 6,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, Rp 6,39 triliun merupakan hasil dari investasi, yang merupakan langkah positif menuju tujuan tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, mengingatkan tentang tantangan yang masih dihadapi BPKH dalam meningkatkan nilai manfaat bagi jemaah. Ia menyatakan bahwa presiden menargetkan penyelenggaraan haji yang lebih mudah dan terjangkau, sehingga diperlukan pengelolaan yang lebih adaptif terhadap peluang ekonomi dalam ekosistem haji.
“BPKH harus mampu meningkatkan nilai manfaat secara berlipat ganda, terutama mengingat saat ini baru ada 221 ribu calon jemaah yang mendapatkan manfaat dari program ini,” jelas Marwan. Ia juga menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pengelolaan keuangan agar bisa menangani potensi penambahan kuota jemaah haji di masa depan.
Marwan mengingatkan bahwa jika kapasitas pengelolaan keuangan tidak ditingkatkan, akan sulit untuk mengelola jumlah jemaah yang lebih besar. “Pengelolaan harus bertransformasi menuju nilai manfaat yang jauh lebih tinggi agar dapat memenuhi kebutuhan masa depan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam konteks ini, edukasi dan sosialisasi mengenai pengelolaan haji kepada masyarakat juga menjadi sangat penting. Masyarakat perlu tahu dan memahami bagaimana pengelolaan dana haji bekerja dan nilai manfaat yang bisa didapatkan. BPKH harus melakukan upaya lebih untuk menjelaskan tentang proses investasi dan distribusi dana haji agar informasi ini dapat diserap dengan baik oleh calon jemaah.
Kedepan, BPKH memiliki tantangan untuk menjaga transparansi dalam pengelolaan dana haji. Pengelolaan yang transparan akan mendorong kepercayaan masyarakat dalam berinvestasi melalui program haji. BPKH dituntut lebih aktif dalam memberikan laporan dan informasi terkait pengelolaan dana, serta hasil investasi yang dicapai.
Momen haji adalah salah satu pengalaman spiritual terbesar bagi umat Muslim. Oleh karena itu, setiap langkah yang diambil oleh BPKH dalam mengelola dana dan memberikan nilai tambah bagi jemaah haji harus selalu berorientasi pada pelayanan terbaik. Upaya ini mencakup berbagai aspek, baik dari segi kenyamanan, keamanan, sampai pada pengelolaan dana yang efektif dan efisien.
Dengan selalu mengedepankan transparansi dan akuntabilitas, BPKH dapat menciptakan kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa dana haji mereka dikelola dengan baik. Langkah-langkah inovatif dalam berinvestasi serta penguatan ekosistem ekonomi perhajian adalah bagian dari komitmen BPKH dalam memastikan bahwa setiap calon jemaah haji mendapatkan manfaat maksimal dari dana yang telah mereka investasikan.
Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pengelolaan dana yang baik, namun juga pada kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, DPR, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Semua ini bertujuan untuk menciptakan pengalaman haji yang tidak hanya memenuhi harapan spiritual, tetapi juga memberikan nilai manfaat ekonomis yang signifikan.
Dengan demikian, kita bisa berharap bahwa ke depan, jumlah jemaah haji yang mendapatkan manfaat akan semakin meningkat, seiring dengan peningkatan kapasitas pengelolaan dan inovasi dalam investasi. BPKH diharapkan mampu beradaptasi dan terus bertransformasi menuju pengelolaan yang lebih baik, sehingga setiap jemaah akan merasakan manfaat yang lebih besar dan pengalaman haji yang tidak terlupakan.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Kunjungi situs kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan persiapan haji Anda.



