Jakarta – Kebijakan Umrah Mandiri yang baru-baru ini disahkan oleh pemerintah telah menciptakan sejumlah reaksi variatif di kalangan asosiasi travel. Sementara banyak pihak menunjukkan kekhawatiran terkait implikasi dari kebijakan ini, Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (Asphirasi) justru melihat hal ini sebagai peluang strategis yang dapat membawa transformasi positif.
Sikap Asphirasi dapat disimpulkan bahwa mereka melihat kebijakan ini bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai momentum bagi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk bertransformasi dan “naik kelas.” Dalam pernyataannya, Sekretaris Jenderal Asphirasi, Retno Anugerah Andriyani, menekankan bahwa kehadiran opsi Umrah Mandiri harus memacu pelaku usaha untuk meningkatkan nilai layanan mereka. Hal ini menciptakan tantangan sekaligus kesempatan untuk memperbaiki standar pelayanan yang ada.
Retno Anugerah memaparkan bahwa industri travel umrah sedang berada pada titik transformasi yang penting. “Ini saatnya industri travel umrah berinovasi, bukan mundur dari persaingan,” jelasnya dalam keterangan pers yang diterima oleh detikcom pada 27 Oktober 2025. “Peran kita akan bergeser dari sekadar penjual paket menjadi konsultan ibadah dan pelindung jamaah.”
Empat Kunci PPIU Untuk Tetap Relevan di Era Umrah Mandiri
Dalam menghadapi perubahan regulasi yang signifikan ini, Retno, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Hajar Aswad Mubaroq, menyebutkan ada empat aspek kunci yang harus diperhatikan oleh PPIU agar tetap relevan:
-
Inovasi dan Digitalisasi: Memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan. Misalnya, penggunaan aplikasi mobile yang memungkinkan jamaah untuk melacak itinerary dan melakukan komunikasi dengan penyelenggara dengan lebih mudah.
-
Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM): Menguatkan profesionalisme di antara staf agar mereka mampu memberikan pendampingan ibadah yang berkualitas tinggi. Pelatihan berkelanjutan dapat menjadi cara untuk menjaga kualitas layanan yang diberikan.
-
Paket yang Fleksibel: Menghadirkan berbagai pilihan paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi jamaah yang semakin dinamis. Dengan pilihan yang lebih beragam, jamaah akan merasa lebih nyaman dan terlayani.
-
Pendampingan Berbasis Pengalaman: Memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah jamaah dari keberangkatan hingga kepulangan. Pendampingan yang menyeluruh sangat penting agar jamaah merasa aman dan nyaman selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Retno menegaskan, “Mayoritas jamaah Indonesia, dengan karakter yang beragam, tetap membutuhkan pendampingan yang menyeluruh. Di sinilah nilai utama PPIU. Kita justru harus memimpin transformasi ini dengan menjaga amanah sebagai fondasi utama.”
Memahami Risiko dari Umrah Mandiri
Walaupun Asphirasi menyambut baik transformasi ini, mereka juga mengingatkan calon jamaah mengenai sejumlah risiko yang mungkin akan dihadapi dalam perjalanan umrah mandiri. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Risiko Penipuan Tinggi: Tanpa adanya perantara travel yang terpercaya, jamaah bisa menjadi sasaran penipuan. Oleh karena itu, sangat krusial untuk memilih penyelenggara perjalanan yang memiliki reputasi baik.
-
Minimnya Pendampingan: Dalam umrah mandiri, jamaah berisiko menghadapi minimnya bimbingan ibadah yang memadai serta pendampingan saat terjadi kondisi darurat, seperti sakit atau kejadian tidak terduga lainnya.
-
Biaya dan Tenaga Ekstra: Jamaah harus siap untuk mengatur segala sesuatu sendiri, termasuk menanggung biaya yang tidak terduga. Hal ini memerlukan persiapan mental dan fisik yang lebih besar dalam mengurus administrasi perjalanan.
Di akhir pembicaraannya, Retno mengingatkan bahwa PPIU tidak akan tergantikan dalam ekosistem umrah yang baru. “Kolaborasi dengan platform digital adalah langkah strategis untuk memperkuat layanan haji dan umrah nasional,” ungkapnya. Baginya, menjadi mitra utama dalam ekosistem ini sangat penting.
Saran Untuk Jamaah yang Memilih Umrah Mandiri
Bagi masyarakat yang tetap memilih opsi Umrah Mandiri, Retno menyarankan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan PPIU yang terpercaya. Dengan demikian, perjalanan ibadah dapat dipersiapkan dengan lebih matang, aman, dan nyaman. “Jangan ragu untuk meminta bantuan dari penyelenggara yang memiliki pengalaman. Ini akan sangat berpengaruh pada kelancaran ibadah Anda,” pungkasnya.
Kesimpulan
Kebijakan Umrah Mandiri memberikan prospek baru bagi industri travel, mendorong inovasi serta transformasi dalam memberikan layanan. Namun, risiko yang melekat dalam perjalanan umrah mandiri juga tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, pemahaman dan persiapan matang sangat penting untuk memastikan ibadah yang sukses dan aman.
Bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan ibadah haji atau umrah, pastikan untuk tidak hanya bergantung pada informasi online, tetapi juga berkonsultasi dengan ahli yang dapat membimbing Anda melalui proses ini. Memilih pendamping yang tepat adalah langkah awal menuju pengalaman ibadah yang tak terlupakan.



