Jakarta –
Jemaah lanjut usia (lansia) mempunyai kebutuhan yang berbeda dibandingkan dengan jemaah yang lebih muda. Oleh karena itu, pelayanan terhadap jemaah lansia menjadi aspek penting yang perlu dikuasai oleh calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2027. Dalam melaksanakan ibadah haji, perhatian ekstra terhadap kondisi fisik, mobilitas, kesehatan, kemampuan berkomunikasi, serta kebutuhan pendampingan selama berada di Tanah Suci harus menjadi prioritas utama.
Pelayanan haji bukan sekadar tentang menguasai tata cara ibadah, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk memberikan dukungan yang aman, manusiawi, ramah, dan sesuai dengan kebutuhan jemaah. Hal ini ditindaklanjuti oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) yang terus memperkuat kebijakan dan tata kelola penyelenggaraan ibadah haji yang lebih ramah bagi lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya. Upaya penguatan ini merupakan bagian dari transformasi pelayanan haji agar lebih inklusif dan adil bagi semua.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Kemenhaj, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menegaskan bahwa pelayanan haji mencakup lebih dari aspek operasional, melainkan juga memenuhi hak setiap jemaah untuk mendapatkan layanan yang bermartabat. “Penyelenggaraan ibadah haji adalah layanan publik strategis yang harus memastikan seluruh jemaah mendapatkan akses yang setara, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan. Oleh karena itu, layanan kita harus aman, manusiawi, dan aksesibel,” tegas Puji.
### Materi Pelayanan Jemaah Lansia yang Perlu Diperhatikan
Dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal, berikut adalah beberapa aspek yang perlu diperhatikan oleh para petugas haji:
#### 1. Pahami Karakteristik Jemaah Lansia
Penting bagi calon petugas untuk memahami karakteristik jemaah lansia. Mereka sering mengalami penurunan kemampuan fisik, yang dapat membuat mereka lebih cepat lelah, sulit berjalan jauh, atau membutuhkan alat bantu seperti tongkat atau kursi roda. Tak jarang, mereka juga mengalami penurunan daya ingat dan konsentrasi. Kondisi ini membuat penting bagi petugas untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan pendampingan.
Dalam musim haji sebelumnya, lebih dari 44 ribu jemaah lansia dan ratusan penyandang disabilitas teridentifikasi memerlukan layanan khusus. Hal ini menunjukkan perlunya kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan berbasis kebutuhan. “Kita tidak bisa lagi melihat pelayanan haji secara umum. Harus ada pendekatan spesifik berbasis kebutuhan jemaah,” ungkap Puji Raharjo.
#### 2. Utamakan Keselamatan Jemaah
Keselamatan adalah hal yang harus diutamakan dalam pelayanan kepada jemaah lansia. Dalam semua aspek berpindah tempat, baik itu menaiki atau menuruni tangga, menggunakan transportasi, maupun ketika beribadah di masjid, keselamatan jemaah lansia harus selalu diperhatikan. Bila jemaah mengalami keluhan kesehatan seperti pusing atau sesak napas, petugas harus cepat tanggap dan berkoordinasi dengan tim kesehatan sesuai prosedur.
#### 3. Gunakan Komunikasi yang Sederhana dan Jelas
Kemampuan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting saat melayani jemaah lansia. Petugas sebaiknya menjelaskan informasi dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti. Menghindari penyampaian informasi yang terlalu banyak sekaligus adalah langkah bijak. Petugas bisa menjelaskan informasi secara bertahap dan memberikan waktu bagi jemaah untuk memahami instruksi yang diberikan.
#### 4. Bantu Jemaah yang Tersesat
Situasi dimana jemaah lansia tersesat atau terpisah dari rombongannya adalah salah satu tantangan yang harus diantisipasi. Ketika menghadapi jemaah yang kebingungan, langkah pertama adalah menenangkan mereka dan tidak membuat mereka semakin panik. Dengan memeriksa identitas seperti kartu identitas atau gelang pengenal, petugas bisa membantu mengembalikan jemaah ke rombongannya.
#### 5. Pahami Konsep Pelayanan Berbasis Kebutuhan
Setiap jemaah mempunyai kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, petugas harus mampu mengenali dan menyesuaikan bentuk pendampingan yang diberikan. Pemerintah berkomitmen untuk menghadirkan pelayanan haji yang inklusif melalui penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas petugas, dan penyediaan fasilitas yang lebih ramah bagi jemaah berkebutuhan khusus.
#### 6. Kenali Pentingnya Data Kesehatan dan Istitha’ah
Penting bagi calon petugas untuk menyadari nilai dari data kesehatan jemaah. Salah satu strategi penguatan pelayanan haji adalah dengan mengintegrasikan data kesehatan dan istitha’ah jemaah sejak tahap awal verifikasi. Dengan data yang lebih baik, kondisi jemaah dapat dipantau secara efektif, dan kebutuhan pendampingan bisa dipetakan sejak awal.
#### 7. Pahami Fasilitas Ramah Lansia
Pelayanan yang ramah terhadap lansia tidak hanya bergantung pada kemampuan petugas tetapi juga pada ketersediaan fasilitas yang mendukung mobilitas dan aksesibilitas. Beberapa langkah yang disiapkan pemerintah termasuk penyediaan kursi roda, jalur prioritas, serta peningkatan aksesibilitas di lokasi-lokasi ibadah. Calon petugas perlu memahami keberadaan fasilitas ini agar dapat memberikan arahan yang tepat saat jemaah membutuhkannya.
Penting untuk dicatat bahwa pelayanan terhadap jemaah lansia tidak berhenti saat mereka tiba di Tanah Suci. Pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari kedatangan, akomodasi, hingga mobilitas mereka untuk beribadah, dan akhirnya selama proses pemulangan. Komitmen untuk memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan jemaah lansia akan memastikan bahwa mereka dapat menunaikan ibadah haji dengan optimal dan tanpa hambatan.
### Kesimpulan
Dalam rangka meningkatkan pengalaman ibadah haji bagi jemaah lansia, penting bagi petugas untuk memahami dan mematuhi prinsip-prinsip di atas. Kepedulian, kesabaran, dan kemampuan komunikasi yang baik akan menjadi kunci sukses dalam pelayanan ini. Mari bersama-sama kita menciptakan pengalaman ibadah haji yang tak terlupakan bagi semua jemaah, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian khusus.



