Ahmad Musyaddad: Suara Indonesia di Behind the Sermons of Masjidil Haram



Makkah – Haji adalah ibadah yang dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Riuhnya jemaah, indahnya Ka’bah, dan keagungan Masjidil Haram menjadi magnet bagi jutaan orang untuk mengunjungi tempat ini. Di tengah keramaian itu, ada sosok yang berperan penting dalam menyampaikan khutbah di Masjidil Haram, Ahmad Musyaddad. Ia bukanlah khatib yang berdiri di atas mimbar, melainkan seorang penerjemah yang mengalihkan pesan-pesan spiritual dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, agar jemaah dari seluruh penjuru dunia dapat memahami makna khutbah yang disampaikan.

Sejak tahun 2015, Musyaddad telah diamanahi tugas ini, yang bukan hanya sekadar menterjemahkan kata-kata, tetapi juga menciptakan jembatan antara pesan ilahi dan pemahaman jemaah. Dia melakukan tugas ini dari studio di lantai tiga Masjidil Haram, tak terlihat oleh jutaan pelaksanaan ibadah di sekitarnya. Menerjemahkan khutbah bukanlah hal yang mudah; ini memerlukan pemahaman mendalam tentang konteks, istilah, dan nilai-nilai yang dibawa dalam setiap kata. Bagaimana perjalanan Ahmad Musyaddad sampai di titik ini, tentu memiliki cerita yang tidak dapat diabaikan.

Jalan Panjang Menjadi Penerjemah

Perjalanan Ahmad Musyaddad dimulai dari pendidikan formal di Pondok Pesantren Nurul Hakim, yang terletak di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Selama enam tahun di sana, ia mengasah kemampuan berbahasa Arab dan pengetahuan tentang Islam. Pengalaman ini menjadi modal awal saat ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), perguruan tinggi yang berafiliasi dengan Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, Arab Saudi.

Di LIPIA, Musyaddad mengambil program bahasa Arab selama tiga tahun, sebelum melanjutkan ke Fakultas Syariah selama empat tahun. Ia menyelesaikan pendidikan ini dengan cemerlang, dan kesempatan yang lebih besar datang saat ia meraih gelar sarjana. Ia melanjutkan studi magister di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) di Bogor, dan kini sedang menempuh program doktor di kampus yang sama. Peluang untuk menjadi penerjemah khutbah di Masjidil Haram datang pada tahun 2014 ketika Otoritas Masjidil Haram meluncurkan program penerjemahan langsung ke berbagai bahasa.

Baca juga:  Angka Kematian Menurun 25%, Menhaj Tetap Mendorong Penguatan Protokol Kesehatan Haji

Dari banyak peserta, Musyaddad terpilih dan mulai melaksanakan tugasnya pada Maret 2015. Sejak saat itu, lahirnya layanan penerjemahan ini tidak hanya menjembatani bahasa, tetapi juga menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang kuat ke seluruh dunia.

Di Balik Mikrofon

Pekerjaan Musyaddad sebagai penerjemah bukan hanya soal menerjemahkan kata, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Setiap pekan, Musyaddad dan timnya mulai bersiap jauh sebelum Jumat tiba. Proses yang dimulai dari Rabu ketika khatib menyerahkan naskah khutbah kepada kantor penerjemahan, hingga penerjemahan dan diskusi kembali menjadi bagian yang krusial.

Setidaknya satu hingga dua jam sebelum khutbah dimulai, mereka menandatangani naskah yang telah disepakati. Selanjutnya, saat khatib mulai berbicara, Musyaddad dan koleganya memasuki studio, menunggu untuk menyalakan mikrofon mereka dan mengalirkan pesan ke jutaan telinga. Dan meski seluruh rencana telah disusun, Musyaddad ingat satu momen di mana semuanya harus diubah secara mendasar, dan saat itu ia harus menerjemahkan tanpa naskah. Situasi ini menunjukkan bahwa dalam tugas besar ini, harus ada kesiapan dan pengetahuan mendalam yang selalu terjaga.

Lebih dari Sekadar Menerjemahkan

Bagi Musyaddad, pekerjaan ini bukan sekadar sarana untuk menghasilkan uang. Ini adalah suatu bentuk pengabdian dan kesempatan untuk memberikan kontribusi pada umat. Menyampaikan ilmu yang diperoleh di Masjidil Haram adalah kebanggaan tersendiri baginya. Ia kini juga menerjemahkan khutbah dari Masjid Nabawi, yang menambah tanggung jawab di pundaknya.

Musyaddad berpendapat bahwa meskipun teknologi semakin berkembang, peran penerjemah manusia tidak dapat sepenuhnya tergantikan oleh kecerdasan buatan. “AI mungkin bisa menterjemahkan kata, tetapi tidak bisa memahami konteks dan makna yang dalam dari teks-teks keagamaan,” ucapnya. Dengan demikian, penting bagi seseorang yang ingin menekuni bidang ini untuk tidak hanya menguasai bahasa Arab tetapi juga memiliki dasar ilmu syariah dan kemampuan menulis yang baik dalam bahasa Indonesia.

Baca juga:  Keluarga Jemaah yang Meninggal Saat Haji Dapat Mengajukan Klaim Asuransi Jiwa, Berikut Langkah-langkahnya

Pesan untuk Anak Muda

Melihat perkembangan zaman, Musyaddad berharap anak-anak muda Indonesia lebih tertarik untuk belajar bahasa Arab dan mendalami ilmu-ilmu keislaman. “Keterampilan ini tidak hanya membuka peluang akademik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berkontribusi pada umat,” ujarnya. Musyaddad tentu menyadari bahwa kebutuhan akan penerjemah bahasa Arab di Indonesia sangat besar, tidak hanya untuk khutbah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tetapi juga untuk naskah-naskah keagamaan lainnya.

Kesempatan yang ia dapat adalah contoh nyata bahwa ketika seseorang mempersiapkan diri dengan baik, kesempatan besar akan datang di waktu yang tidak terduga. Musyaddad mengingatkan, “Kesempatan tidak datang dua kali. Maka, jika kita sudah memiliki pengetahuan, kita harus siap untuk mengambilnya.”

Jadi, bagi Anda yang ingin mengikuti jejak Ahmad Musyaddad, mulai lah menekuni bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Tidak ada langkah yang sia-sia dalam proses belajar.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Klik di sini untuk memulai perjalanan spiritual Anda

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top