Panduan Lengkap Proses Haji dari Mulai hingga Selesai beserta Tata Cara Pelaksanaannya


Solo
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima dan menjadi puncak dari pelaksanaan rukun-rukun Islam yang telah ada sebelumnya. Bagi umat Islam, menunaikan ibadah haji adalah sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang mampu secara fisik, mental, dan finansial. Ibadah ini tidak hanya berupa serangkaian ritual, melainkan juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, setiap jemaah haji perlu mematuhi sejumlah ketentuan, urutan, dan tata cara pelaksanaan ibadah haji untuk memastikan bahwa mereka melaksanakan ibadah ini dengan benar.

Kapan pun seseorang memutuskan untuk berangkat haji, sangat penting untuk memahami tata cara dan urutan pelaksanaan ibadah haji. Di bawah ini adalah penjelasan rinci mengenai tata cara pelaksanaan ibadah haji dari awal sampai akhir, diambil dari beberapa sumber yang terpercaya, termasuk buku “Fikih Madrasah Aliyah Kelas X” oleh Harjan Syuhada dan Sungarso, “Mengenal Haji” oleh Dede Imadudin, serta “Tata Cara Haji Seri Fikih Sunnah Imam Syafi’i” oleh Al-Qadhi Abu Syuja dan kolega.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tata Cara Haji

1. Memulai Ihram dari Miqat yang Telah Ditentukan

Untuk memulai ibadah haji, jemaah wajib melakukan ihram dari tempat yang telah ditentukan, yang disebut miqat. Miqat terbagi menjadi dua jenis: miqat zamani (batas waktu) dan miqat makani (batas tempat). Bulan yang ditentukan untuk melakukan ibadah haji adalah bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Sedangkan tempat miqat ditentukan berdasarkan lokasi kedatangan jemaah.

Langkah-langkah yang harus diikuti sebelum memasuki keadaan ihram meliputi:
– Mandi sunnah
– Wudhu
– Menggunakan pakaian ihram
– Menunaikan shalat sunnah ihram
– Mengucapkan niat haji
– Berangkat menuju Arafah sambil membaca talbiyah

2. Wukuf di Arafah pada Tanggal 9 Zulhijah

Wukuf di Arafah merupakan salah satu puncak pelaksanaan ibadah haji, yang dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah hingga matahari terbenam pada tanggal 10 Zulhijah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Dalam proses ini, jemaah sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dan melakukan amalan-amalan berikut:
– Shalat Zuhur dan Ashar secara jama’ qasar taqdim
– Mendengarkan khutbah wukuf
– Memperbanyak zikir
– Membaca Al-Quran
– Shalat Maghrib dan Isya dengan cara jama’ qasar taqdim

3. Menginap di Muzdalifah

Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, jemaah berangkat menuju Mina dengan terlebih dahulu singgah di Muzdalifah untuk bermalam hingga terbit fajar. Menurut fatwa MUI, mabit di Muzdalifah adalah wajib, dan mereka yang meninggalkan tempat ini tanpa uzur harus membayarnya. Di sini, jemaah juga disunnahkan untuk mengumpulkan kerikil untuk lempar jumrah. Aktivitas yang dapat dilakukan di Muzdalifah meliputi:
– Membaca talbiyah
– Berzikir, beristighfar, dan berdoa
– Membaca Al-Quran
– Mengumpulkan kerikil

4. Lempar Jumrah

Setelah melewati malam di Muzdalifah, jemaah melakukan lempar jumrah aqabah pada tanggal 10 Zulhijah, yang biasanya dilakukan setelah matahari mulai bersinar. Dalam prosesi ini, tujuh kerikil dilemparkan ke arah tugu jumrah yang terletak di Bukit Aqabah, Mina. Setelah berhasil melakukan lempar jumrah, jemaah dapat menyembelih hewan korban sebagai bagian dari ibadah haji mereka.

5. Tahallul

Setelah melempar jumrah aqabah, jemaah melakukan tahallul, yang berarti melepaskan diri dari status ihram. Tahallul ini terbagi menjadi dua tahap. Tahallul pertama dilakukan setelah melempar jumrah dengan cara mencukur atau memotong sekurang-kurangnya tiga helai rambut. Jemaah kemudian melanjutkan ke Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah, yang mencakup:
– Memasuki Masjidil Haram melalui pintu Babussalam
– Membaca talbiyah
– Mencium Hajar Aswad setelah tawaf
– Shalat sunnah di dekat makam Nabi Ibrahim
– Berdoa di Multazam
– Shalat sunnah di Hijir Ismail
– Melakukan sa’i

Setelah menyelesaikan sa’i, tahallul kedua dilakukan dengan memotong sekurangnya tiga helai rambut. Pada tahap ini, jemaah diperbolehkan untuk melakukan semua aktivitas yang dilarang selama ihram, termasuk berhubungan suami istri.

6. Menginap di Mina

Jemaah haji kemudian kembali menuju Mina untuk mabit pada hari Tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Setelah matahari tergelincir pada setiap hari Tasyrik, mereka melakukan lempar jumrah ke tiga jumrah, di mana masing-masing terdiri dari tujuh kali lempar. Tiga jumrah tersebut adalah: jumrah ula, wusta, dan aqabah. Setelah semua rangkaian ibadah di Mina selesai, jemaah dapat kembali ke Makkah.

7. Tawaf Wada

Sebagai penutup dari ibadah haji, jemaah melakukan tawaf wada sebelum kembali ke kampung halaman atau jika ingin melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Syarat Wajib Haji

Untuk menjamin ibadah haji yang dilaksanakan sah dan diterima oleh Allah SWT, jemaah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut meliputi:
1. Beragama Islam
2. Baligh (dewasa)
3. Berakal
4. Merdeka (bukan budak)
5. Memiliki bekal dan kendaraan yang memadai
6. Aman dalam perjalanan
7. Perjalanan memungkinkan untuk dilakukan

Rukun Haji

Ada enam rukun haji yang perlu diperhatikan oleh setiap jemaah, antara lain:
1. Ihram disertai dengan niat
2. Wukuf di Arafah
3. Tawaf di Baitullah
4. Sa’i antara Safa dan Marwah
5. Tahallul
6. Tertib dalam rangkaian ibadah

Dengan memahami semua langkah dan syarat dalam pelaksanaan ibadah haji, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah ini dengan baik dan diterima oleh Allah SWT. Ibadah haji bukan hanya sekadar rangkaian ritual, tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang penting dalam hidup seorang Muslim.

Artikel ini ditulis oleh Noris Roby Setiyawan, peserta Program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.

(apl/ahr)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top