Apakah Benar Jemaah Haji Didampingi Malaikat? Simak Penjelasannya.

Jakarta – Kembali ke Tanah Air setelah melaksanakan ibadah haji merupakan momen yang istimewa bagi setiap jemaah haji asal Indonesia.  Melaksanakan ibadah haji bagi umat Muslim tidak hanya merupakan pemenuhan rukun Islam yang kelima, tetapi juga menjadi titik puncak dalam perjalanan spiritual mereka.

Di tengah kepulangan jemaah haji, ada banyak pertanyaan yang muncul di kalangan masyarakat, salah satunya adalah: Benarkah jemaah haji diikuti malaikat sampai pulang ke rumah? Mari kita bahas lebih lanjut.

Jemaah Haji Diikuti Malaikat Hingga Pulang

Mengacu pada buku “Kewajiban dan Adab Musafir” yang ditulis oleh Abdul Aziz Salim Basyarahil, perjalanan menuju ibadah haji adalah salah satu bentuk safar yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT. Hal ini berlandaskan pada hadits yang menggarisbawahi keutamaan sebuah perjalanan yang memiliki niat baik.

Menurut Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

Tidak seorang keluar meninggalkan rumahnya kecuali di pintu rumahnya ada dua panji. Sebuah panji di tangan malaikat dan sebuahnya lagi di tangan setan. Jika tujuannya kepada apa yang diridhai Allah Azza wa Jalla, maka dia akan diikuti malaikat dengan panjinya sampai dia pulang ke rumahnya. Apabila tujuannya kepada apa yang dimurkai Allah SWT, maka setan dengan panjinya akan mengikutinya sampai dia pulang ke rumahnya.” (HR Ahmad dan At-Thabrani)

Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa jemaah haji yang pergi dengan niat yang tulus untuk mencari ridha Allah SWT memang diikuti oleh malaikat hingga mereka kembali ke rumah. Hal ini menambah makna dan nilai spiritual dari perjalanan ke Tanah Suci.

Namun, tidak hanya ibadah haji yang mendapatkan perhatian ini. Perjalanan lainnya seperti umrah, menuntut ilmu, berdakwah, berperang di jalan Allah, atau bersilaturahmi dengan keluarga juga dapat dikategorikan sebagai bentuk safar yang dicintai oleh Allah.

Rasulullah SAW juga mendorong setiap Muslim untuk melakukan perjalanan, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits yang menunjukkan bahwa safar bisa membawa kesehatan dan berkah:

Bersafarlah niscaya kamu sehat dan pergilah berperang niscaya kamu memperoleh ghanimah.” (HR. Ahmad)

Keutamaan Jemaah Haji

Setelah memahami tentang pengawasan malaikat, kita perlu mengetahui bahwa jemaah haji juga diberikan keutamaan yang sangat tinggi. Salah satu keistimewaan tersebut adalah bahwa jemaah haji akan dibanggakan oleh Allah SWT di hadapan para malaikat.

Dalam buku “Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umrah” yang ditulis oleh Ahmad Sarwat, ada sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa ketika para jemaah haji berkumpul di Padang Arafah, penuh dengan ketaatan, Allah menunjukkan kebanggaan-Nya kepada mereka di depan para malaikat.

Salah satu hadits yang mendasari hal ini adalah sebagai berikut:

Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hambanya dari api neraka kecuali hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah condong kepada jemaah haji dan membanggakan mereka di depan para malaikat.” (HR Muslim)

Artinya, pada hari Arafah, Allah SWT sangat dekat dengan para hamba-Nya yang beribadah, dan Dia membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Keberadaan Allah yang memberikan perhatian khusus kepada hamba-hamba-Nya seadanya jemaah haji menunjukkan betapa besar nilai ibadah ini.

Transformasi Setelah Kembali

Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, jemaah diharapkan tidak hanya kembali ke kehidupan yang sama. Ibadah haji adalah sebuah perjalanan spiritual yang menyentuh jiwa dan pikiran. Oleh karena itu, jemaah haji diharapkan untuk semakin saleh dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah transformasi diri setelah kembali dari haji merupakan hal yang sangat diinginkan.

Proses kembali ke kehidupan sehari-hari seharusnya menjadi momentum untuk membawa perubahan yang positif. Ini adalah saat yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menunjukkan etika serta moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Niat dalam Setiap Perjalanan

Niat adalah salah satu aspek terpenting dalam melaksanakan setiap aktivitas, termasuk perjalanan, ibadah, dan kegiatan sehari-hari. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap amalan tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, setiap jemaah haji diharapkan untuk menegaskan niat yang tulus sebelum melakukan perjalanan.

Dengan niat yang baik, setiap langkah yang diambil dalam perjalanan ibadah haji akan mendatangkan berkah dan ridha dari Allah SWT. Semoga setiap jemaah haji kembali ke Tanah Air menjadi pribadi yang lebih baik dan saleh dalam setiap aspek kehidupannya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, melaksanakan ibadah haji adalah perjalanan yang sarat makna dan spiritual. Tidak hanya memenuhi rukun Islam yang kelima tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan spiritual dan sosial. Jemaah haji yang pergi dengan niat yang tulus demi mencari ridha Allah SWT akan diikuti oleh malaikat dan mendapatkan keutamaan yang besar, termasuk dibanggakan di hadapan para malaikat.

Setelah kembali dari ibadah haji, diharapkan para jemaah dapat mengimplementasikan perubahan positif dan lebih dekat kepada Allah dalam setiap tindakan serta ucapan mereka. Ibadah haji bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga sebuah perjalanan menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi. Dan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan petunjuk kepada kita semua.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top